Mengenal Model Spiral dalam Pengembangan Perangkat Lunak : Kelebihan dan Kekurangannya

Share article

Mengenal Model Spiral dalam Pengembangan Perangkat Lunak : Kelebihan dan Kekurangannya ~ Eko.co.id. Hallo sobat Pakar IT Jogja, apakah kamu sedang mencari informasi tentang model Spiral atau istilah kerennya “spiral model in software engineering”. Bagi yang belum familiar dengan metode atau model Spiral ini merupakan salah satu model dari Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak  atau system development life Cycle (SDLC), nah pada artikel ini Eko.co.id akan berbagi informasi lengkap tentang model Spiral secara detail. 

Berikut ini adalah daftar isi pembahasan materi model spiral dalam artikel ini:

Apa yang dimaksud model spiral ? 

Model Spiral ini pertama kali diperkenalkan oleh Barry Boehm pada makalahnya berjudul Spiral Model of Software Development and Enhancement. Dalam makalahnya tersebut Barry menjelaskan bahwa model Spiral ini merupakan model yang sangat berguna untuk melakukan pengembangan proyek-proyek besar yang mana dalam setiap prosesnya tersebut memperhatikan resiko sehingga akan menghasilkan model proses yang tepat sesuai kebutuhan dari pengguna.

Model Spiral ini merupakan pengabungan dari model Waterfall dan model prototyping. Model prototyping yang fokus pada penyajian atau presentasi kepada user dengan format input dan output kemudian perangkat lunak akan dievaluasi. Model waterfall yang fokus kepada proses pengembangan perangkat lunak yang sistematis atau berurutan. Model spiral menekankan pada Analisa resiko setiap tahapannya.

Model proses spiral adalah sebuah pendekatan realistis untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak berskala besar, karena perangkat lunak dapat terus berevolusi selama proses berlangsung.

Fungsi model spiral adalah untuk melakukan perubahan, penambahan dan pengembangan perangkat lunak dengan memaksimalkan aspek kecepatan dan ketepatan berdasarkan keinginan dan kebutuhan penggunanya.

Model Spiral ini menyediakan pendekatan sistematis dan berulang untuk pengembangan perangkat lunak. Jika kita melihat gambar model ini tampak seperti spiral dengan banyak putaran. Bagi yang bertanya berapa banyak jumlah putaran dalam model spiral ini tentu jawabannya adalah tidak diketahui dan dapat bervariasi karena tergantung pada besar kecilnya sebuah proyek. 

Setiap putaran spiral disebut Fase proses pengembangan perangkat lunak.

  1. Jumlah pasti tahapan yang diperlukan untuk mengembangkan produk dapat bervariasi oleh manajer proyek tergantung pada risiko proyek.
  2. Ketika manajer proyek secara dinamis menentukan jumlah fase, manajer proyek memiliki peran penting dalam mengembangkan produk menggunakan model spiral. 
  3. Hal ini didasarkan pada gagasan spiral, dengan setiap iterasi spiral mewakili siklus pengembangan perangkat lunak yang lengkap, mulai dari pengumpulan dan analisis persyaratan hingga desain, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan.

Apa saja Fase Model Spiral?

Model Spiral merupakan pendekatan pengembangan perangkat lunak yang berfokus pada pengelolaan risiko melalui serangkaian iterasi. Model ini terdiri dari beberapa fase yang meliputi:

1. Perencanaan

Pada fase perencanaan, tim proyek menentukan ruang lingkup proyek dan membuat rencana untuk iterasi selanjutnya.

2. Analisis Risiko

Fase analisis risiko adalah saat risiko terkait proyek diidentifikasi dan dievaluasi.

3. Rekayasa

Selama fase rekayasa, perangkat lunak dikembangkan berdasarkan persyaratan yang telah dikumpulkan sebelumnya.

4. Evaluasi

Fase evaluasi melibatkan penilaian terhadap perangkat lunak untuk memastikan pemenuhan terhadap persyaratan pelanggan dan kualitas yang tinggi.

5. Perencanaan (kembali)

Setelah evaluasi, iterasi spiral dimulai kembali dengan fase perencanaan baru berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya.

Model Spiral sering digunakan dalam proyek pengembangan perangkat lunak yang kompleks dan besar karena memberikan fleksibilitas dan adaptabilitas yang tinggi. Model ini juga cocok untuk proyek dengan tingkat ketidakpastian atau risiko yang signifikan.

Model Spirall
Model Spirall (ist)

Jari-jari spiral dalam model ini merepresentasikan biaya proyek sampai saat ini, sementara dimensi sudut menunjukkan kemajuan pada fase tertentu. Setiap fase dibagi menjadi empat kuadran dengan fungsi-fungsi berikut:

1. Penentuan Tujuan dan Identifikasi Solusi Alternatif: Pada kuadran ini, persyaratan dari pelanggan diumpulkan dan tujuan serta solusi alternatif dianalisis.

2. Identifikasi dan Penyelesaian Risiko: Kuadran ini melibatkan evaluasi solusi alternatif dan penyelesaian risiko yang terkait dengan solusi yang dipilih. Prototipe juga dibangun pada akhir kuadran ini.

3. Pengembangan Produk Versi Berikutnya: Fase ini berfokus pada pengembangan fitur dan pengujian untuk versi perangkat lunak berikutnya.

4. Tinjauan dan Perencanaan untuk Fase Selanjutnya: Pada kuadran terakhir, versi perangkat lunak dievaluasi oleh pelanggan dan perencanaan untuk iterasi selanjutnya dimulai.

Dengan pendekatan ini, Model Spiral memungkinkan pengembangan perangkat lunak yang lebih terkendali dan adaptif dalam menghadapi perubahan dan risiko.

Penanganan Risiko dalam Model Spiral

Risiko merupakan potensi situasi buruk yang dapat mempengaruhi keberhasilan sebuah proyek pengembangan perangkat lunak. Salah satu aspek kunci dari model spiral adalah penanganan risiko ini sejak awal proyek dimulai. Penyelesaian risiko ini lebih dapat diatasi dengan mengembangkan prototipe.

Model spiral memfasilitasi penanganan risiko dengan memberikan kesempatan untuk membangun prototipe pada setiap tahap pengembangan perangkat lunak. Berbeda dengan Model Prototyping yang juga mendukung penanganan risiko, namun risiko harus diidentifikasi secara menyeluruh sebelum proses pengembangan dimulai.

Dalam kehidupan praktis, risiko proyek dapat muncul setelah proses pengembangan dimulai, dan dalam kondisi ini, Model Prototyping tidak dapat lagi digunakan. Namun, dalam Model Spiral, setiap fase melibatkan penanggalan dan analisis fitur produk, serta identifikasi dan penyelesaian risiko melalui pembuatan prototipe.

Dengan demikian, model ini menawarkan fleksibilitas yang lebih besar dibandingkan dengan model Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak (SDLC) lainnya. Dengan pendekatan ini, Model Spiral memberikan cara yang lebih adaptif dalam mengatasi risiko yang mungkin muncul dalam perjalanan pengembangan perangkat lunak.

Model Spiral dijuluki sebagai Meta-Model

Model Spiral dijuluki sebagai Meta-Model karena kemampuannya untuk mengintegrasikan berbagai model Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak (SDLC) menjadi satu kerangka kerja yang komprehensif. Ini berarti Model Spiral tidak hanya berdiri sendiri sebagai metodologi pengembangan, tetapi juga berfungsi sebagai kerangka kerja yang dapat menyesuaikan dan menerapkan elemen-elemen dari model pengembangan lainnya. Berikut adalah beberapa alasan mengapa Model Spiral dianggap sebagai Meta-Model:

1. Integrasi dengan Model Air Terjun: Dalam Model Spiral, setiap putaran spiral mewakili siklus Model Air Terjun Iteratif. Ini mengartikan bahwa dalam setiap iterasi atau putaran spiral, tahapan Model Air Terjun (seperti perencanaan, analisis, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan) dilaksanakan secara bertahap. Namun, berbeda dari Model Air Terjun yang statis, Spiral memungkinkan kembali ke tahapan sebelumnya dengan lebih fleksibel, menyesuaikan dengan perubahan dan risiko yang teridentifikasi.

2. Penggunaan Pendekatan Prototyping: Model Spiral memanfaatkan pendekatan Prototyping, yang memungkinkan pembuatan prototipe pada awal setiap fase pengembangan. Prototipe ini digunakan sebagai teknik penanganan risiko, memungkinkan tim pengembangan dan stakeholder untuk mengeksplorasi solusi potensial terhadap masalah yang rumit atau persyaratan yang belum jelas, sebelum komitmen dibuat untuk pengembangan penuh.

3. Dukungan terhadap Evolusi: Model Spiral mendukung konsep evolusi perangkat lunak, di mana sistem dianggap berkembang melalui iterasi spiral. Setiap iterasi mewakili versi evolusi dari sistem, memungkinkan penyesuaian dan peningkatan berkelanjutan berdasarkan umpan balik dan identifikasi risiko baru. Ini serupa dengan model pengembangan evolusioner, di mana perangkat lunak dikembangkan dan diperbaiki sepanjang waktu.

Dengan kata lain, keunikannya terletak pada kemampuan untuk secara efektif menggabungkan elemen dari berbagai metodologi pengembangan, memungkinkan pendekatan yang sangat adaptif dan berorientasi risiko dalam pengembangan perangkat lunak. Kemampuan untuk memasukkan berbagai teknik dan metodologi pengembangan menjadikan Model Spiral sebuah pilihan yang fleksibel dan kuat, terutama untuk proyek-proyek besar dan kompleks dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Kelebihan dan Kekurangan Model Spiral

Keuntungan Model Spiral

Model Spiral menawarkan sejumlah kelebihan yang membuatnya menjadi pilihan yang populer dalam pengembangan perangkat lunak. Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari penggunaan Model Spiral:

1. Penanganan Risiko: Model Spiral sangat efektif dalam menangani risiko yang muncul seiring berjalannya proyek. Dengan melakukan analisis risiko dan penanganan risiko pada setiap tahap pengembangan, model ini memungkinkan tim proyek untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengatasi risiko yang tidak terduga dengan lebih baik.

2. Cocok untuk Proyek Besar: Disarankan untuk mengadopsi Model Spiral dalam proyek-proyek besar dan kompleks. Karena kemampuannya untuk mengatasi risiko dan fleksibilitasnya, model ini lebih sesuai untuk proyek-proyek dengan skala yang besar dan persyaratan yang kompleks.

3. Fleksibilitas dalam Persyaratan: Model Spiral memungkinkan perubahan persyaratan untuk diintegrasikan dengan mudah pada setiap tahap pengembangan. Ini memungkinkan fleksibilitas dalam menanggapi perubahan kebutuhan atau permintaan pelanggan dengan akurat dan tepat waktu.

4. Kepuasan Pelanggan: Dengan memungkinkan pelanggan untuk melihat perkembangan produk pada tahap awal pengembangan, Model Spiral dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Pelanggan dapat berpartisipasi aktif dalam proses pengembangan, sehingga mereka lebih akrab dengan sistem dan dapat memberikan umpan balik yang berharga.

5. Pendekatan Iteratif dan Inkremental: Model Spiral menawarkan pendekatan iteratif dan inkremental terhadap pengembangan perangkat lunak. Ini memungkinkan fleksibilitas dan adaptabilitas dalam menanggapi perubahan persyaratan atau situasi tak terduga selama proses pengembangan.

6. Penekanan pada Manajemen Risiko: Model Spiral memberikan penekanan yang kuat pada manajemen risiko, membantu tim proyek untuk mengurangi dampak ketidakpastian dan risiko dalam pengembangan perangkat lunak.

7. Peningkatan Komunikasi: Dengan menyediakan evaluasi dan peninjauan rutin, Model Spiral dapat meningkatkan komunikasi antara pelanggan dan tim pengembangan. Hal ini membantu memastikan pemahaman yang baik tentang kebutuhan dan ekspektasi pelanggan serta memperbaiki kolaborasi antara tim.

8. Peningkatan Kualitas: Melalui beberapa iterasi dalam proses pengembangan perangkat lunak, Model Spiral dapat menghasilkan peningkatan kualitas dan keandalan produk akhir. Proses ini memungkinkan identifikasi dan perbaikan kesalahan secara bertahap, sehingga meningkatkan kualitas keseluruhan dari perangkat lunak yang dikembangkan.

Dengan berbagai keuntungan ini, Model Spiral menjadi salah satu pendekatan yang paling dihargai dalam pengembangan perangkat lunak, terutama untuk proyek-proyek yang kompleks dan berisiko tinggi.

Kekurangan Model Spiral

Meskipun Model Spiral memiliki sejumlah kelebihan, namun juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan sebelum mengadopsinya. Berikut adalah beberapa kekurangan utama dari Model Spiral:

1. Kompleksitas: Model Spiral cenderung lebih kompleks dibandingkan dengan model Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak (SDLC) lainnya. Hal ini disebabkan oleh adanya iterasi dan penanganan risiko yang berulang, sehingga memerlukan pemahaman yang mendalam dan pengelolaan yang cermat dari tim proyek.

2. Mahal: Model Spiral biasanya tidak cocok untuk proyek-proyek kecil karena memerlukan investasi yang signifikan dalam perencanaan, analisis risiko, dan evaluasi. Hal ini membuatnya menjadi pilihan yang kurang ekonomis untuk skala proyek yang lebih kecil.

3. Ketergantungan pada Analisis Risiko: Keberhasilan penyelesaian proyek dalam Model Spiral sangat bergantung pada analisis risiko yang akurat dan efektif. Tanpa keahlian yang memadai dalam mengidentifikasi dan menangani risiko, pengembangan proyek dengan menggunakan model ini dapat menghadapi kesulitan atau bahkan gagal.

4. Kesulitan dalam Manajemen Waktu: Karena jumlah tahapan dalam Model Spiral tidak ditentukan pada awal proyek, perkiraan waktu menjadi sulit dilakukan. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam manajemen waktu dan penjadwalan, karena tiap iterasi mungkin membutuhkan waktu yang bervariasi.

5. Memakan Waktu: Model Spiral dapat memakan waktu karena memerlukan banyak evaluasi dan peninjauan pada setiap tahap iterasi. Proses ini dapat menunda kemajuan proyek dan memperpanjang jadwal pengembangan.

6. Intensif Sumber Daya: Model Spiral bisa menjadi intensif sumber daya, karena memerlukan upaya dan investasi yang signifikan dalam perencanaan, analisis risiko, dan evaluasi. Hal ini dapat meningkatkan biaya dan sumber daya yang diperlukan untuk proyek.

Meskipun Model Spiral menawarkan pendekatan yang fleksibel dan adaptif dalam pengembangan perangkat lunak, kekurangannya perlu diperhatikan agar dapat mengambil keputusan yang tepat terkait dengan penggunaannya.

Share article
Mas Eko
Mas Eko

Hidup adalah sebuah perjalanan. Senyum adalah salah satu cara bersukur menikmati qadha dan qadar dari Allah.

Articles: 51

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *